Siswanto (52) bersemangat saat menceritakan perjuangannya membuat gondola tradisional di Batu Panjang Pantai Timang, Dusun Danggolo, Purwodadi, Tepus, Gunungkidul. Gondola buatannya diperuntukkan untuk transportasi menuju Batu Panjang.
Siswanto adalah seorang nelayan pencari lobster sejak kecil. Dia mengikuti jejak ayahnya sebagai nelayan di laut Gunungkidul. Baru pada 1997, Siswanto bersama 5 temannya menemukan tempat yang jadi sarang lobster yaitu Batu Panjang.
Bantu Panjang ini terletak 100 meter dari bibir Pantai Timang. Namun untuk menuju ke Batu Panjang tidaklah mudah. Deburan ombak besar serta karang laut yang tajam membuat akses menuju Batu Panjang sangat sulit.
Tim dari merdeka.com dan Portrait of Indonesia, Jumat (23/1) kemarin mendatangi lokasi Batu Panjang. Gondola tradisional yang sudah mendunia itu kokoh terpasang di antara bibir pantai dan Batu Panjang.
Ada 6 orang yang membuat gondola. Mereka adalah Sartono, Warno Senen, Tukijan, Warsito, Wawan dan Siswanto. Setiap hari gondola itu digunakan sebagai moda transportasi untuk mencari lobster di Batu Panjang.
Siswanto menuturkan, tak mudah membuat gondola yang menghubungkan bibir pantai dengan Batu Panjang. Meski jaraknya terlihat dekat sekitar 100 meter, untuk menuju ke sana sangat berbahaya. Di sekeliling Batu Panjang terdapat karang-karang tajam. Di tambah hantaman deburan ombak yang besar. Tak hati-hati bisa tersapu ombak dan terbentur karang.
"Dulu saya bertaruh nyawa untuk menuju ke Batu Panjang. Tidak bisa langsung dari bibir pantai menuju ke Batu Panjang. Saya harus mutar terlebih dahulu, kemudian naik kapal besar lalu berenang menuju Batu Panjang," kata Siswanto.
Dia bersama 5 temannya bahu-membahu menuju Batu Panjang. Hingga akhirnya Siswanto berhasil menaklukkan ganasnya ombak di Pantai Timang tersebut. Dari situlah dia kemudian tercetus ide untuk membuat gondola. Agar setiap hari tak kesulitan menuju Batu Panjang.
Di Batu Panjang inilah, Siswanto bersama 5 nelayan lainnya mencari lobster. Di batu dan karang sekitar Batu Panjang menjadi sarang lobster-lobster besar. Bahkan tempat bertelur.
Gondola yang dibuat Siswanto sangat sederhana. Gondola sendiri terbuat dari kayu kemudian dikaitkan dengan tali panjang yang membentang sepanjang 100 meter, jarak antara bibir pantai dengan Batu Panjang.
Ada 9 tali yang membentang dan terikat dengan gondola. Setiap tali ada fungsinya, seperti buat jalur roda gondola dan menarik ke tujuan. "Satu tali panjang ini harganya mencapai Rp 1 juta," ujar Siswanto.
Gondola buatan Siswanto seiring waktu ternyata menarik wisatawan. Tak semua orang berani naik gondola di atas laut karena di bawahnya ada karang-karang tajam. Dibutuhkan keberanian untuk naik gondola tradisional tersebut.
merdeka.com Siswanto adalah seorang nelayan pencari lobster sejak kecil. Dia mengikuti jejak ayahnya sebagai nelayan di laut Gunungkidul. Baru pada 1997, Siswanto bersama 5 temannya menemukan tempat yang jadi sarang lobster yaitu Batu Panjang.
Bantu Panjang ini terletak 100 meter dari bibir Pantai Timang. Namun untuk menuju ke Batu Panjang tidaklah mudah. Deburan ombak besar serta karang laut yang tajam membuat akses menuju Batu Panjang sangat sulit.
Tim dari merdeka.com dan Portrait of Indonesia, Jumat (23/1) kemarin mendatangi lokasi Batu Panjang. Gondola tradisional yang sudah mendunia itu kokoh terpasang di antara bibir pantai dan Batu Panjang.
Ada 6 orang yang membuat gondola. Mereka adalah Sartono, Warno Senen, Tukijan, Warsito, Wawan dan Siswanto. Setiap hari gondola itu digunakan sebagai moda transportasi untuk mencari lobster di Batu Panjang.
Siswanto menuturkan, tak mudah membuat gondola yang menghubungkan bibir pantai dengan Batu Panjang. Meski jaraknya terlihat dekat sekitar 100 meter, untuk menuju ke sana sangat berbahaya. Di sekeliling Batu Panjang terdapat karang-karang tajam. Di tambah hantaman deburan ombak yang besar. Tak hati-hati bisa tersapu ombak dan terbentur karang.
"Dulu saya bertaruh nyawa untuk menuju ke Batu Panjang. Tidak bisa langsung dari bibir pantai menuju ke Batu Panjang. Saya harus mutar terlebih dahulu, kemudian naik kapal besar lalu berenang menuju Batu Panjang," kata Siswanto.
Dia bersama 5 temannya bahu-membahu menuju Batu Panjang. Hingga akhirnya Siswanto berhasil menaklukkan ganasnya ombak di Pantai Timang tersebut. Dari situlah dia kemudian tercetus ide untuk membuat gondola. Agar setiap hari tak kesulitan menuju Batu Panjang.
Di Batu Panjang inilah, Siswanto bersama 5 nelayan lainnya mencari lobster. Di batu dan karang sekitar Batu Panjang menjadi sarang lobster-lobster besar. Bahkan tempat bertelur.
Gondola yang dibuat Siswanto sangat sederhana. Gondola sendiri terbuat dari kayu kemudian dikaitkan dengan tali panjang yang membentang sepanjang 100 meter, jarak antara bibir pantai dengan Batu Panjang.
Ada 9 tali yang membentang dan terikat dengan gondola. Setiap tali ada fungsinya, seperti buat jalur roda gondola dan menarik ke tujuan. "Satu tali panjang ini harganya mencapai Rp 1 juta," ujar Siswanto.
Gondola buatan Siswanto seiring waktu ternyata menarik wisatawan. Tak semua orang berani naik gondola di atas laut karena di bawahnya ada karang-karang tajam. Dibutuhkan keberanian untuk naik gondola tradisional tersebut.
0 comments
Post a Comment